Pengertian dan Contoh Affective Forecasting

Sekian lama gak mengakses psychologi today, sekian lama tidak membagikan apapun disini, so finnaly I'm here! Sebenarnya ada 3 draft yang aku ketik sejak awal bulan ini, sialnya kena writer's block ditengah tulisan. Eum... or I just find that its actually not really necessary to write(?) or to you to know(?). So yeah.. Here's another topic that I found interesting!--sebagai pelarian overthingkingku setelah melakukan hal bodoh hari ini.

πŸ‘

 Pengertian

Apabila istilah ini ditraslate lewat google translate arti yang keluar adalah "Peramalan Afektif". Terdengar aneh, namun apabila kita pretel satu-satu, Ferecasting berarti 'peramalan/meramal' sedangkan Afektif secara umum diartikan sebagai 'sifat, sikap, watak, nilai, dan keadaan emosi dan perasaan individu'. Istilah lain dari affective forecasting yakni "Hedonic Forecasting" yang artinya memprediksi seperti apa perasaan yang akan muncul di masa depan.

Istilah ini muncul pada tahun 1990-an setelah dua tokoh psikologi yang bernama Timothy Wilson dan Daniel Girlbert melakukan sebuah penelitian mengenai apakah seseorang benar-benar mampu memprediksikan sesuatu di masa depan, khususnya mengenai perasaannya. Contohnya, apakah menikahi seseorang dengan spesifikasi tertentu akan membuatnya bahagia? Atau apakah ketika kita berhasil untuk membeli barang impian kita lantas akan mendatangkan kepuasan dan kebahagiaan abadi?

Pada penelitian tersebut tercetuslah bahwa sebenarnya manusia memiliki kecenderungan menilai salah pada apa saja yang akan membuatnya bahagia dan sulit menilai dengan filter situasinya saat ini. Wilson dan Gilbert juga menemukan bahwa seseorang cenderung dibutakan oleh perasaannya saat ini, sehingga membuat bias pada keputusan yang akan ia ambil di masa depan. Karena alasan ini affective forecasting tidak bisa dijadian acuan sebagai decision-making atau pembuat keputusan.

Pernahkah teman-teman mendengar nasehat yang dinisbatkan oleh Ali Bin Abi Thalib yang berbunyi, "Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji ketika sedang senang." Yup! Inilah yang disebut Affective Forecasting!

Eum... but please someone tell me which story Ali ever said this? Banyak ketemu quotes-quotes yang dinisbatkan oleh Ali, Umar dan Sahabat Nabi yang lain padahal belum tentu itu berasal dari mereka?? Have u imagine nanti diakhirat papasan sama Ali r.a, kamu curhat mengenai betapa berpengaruh quotesnya dalam hidupmu, lantas kemudian Ali r.a tersenyum sambil mengatakan "Apakah aku benar-benar pernah berkata demikian?" Beliau bertanya dengan sopan sehingga tidak membuat egomu terluka padahal bisa aja di-skakmat, "Aku tidak pernah berkata demikian wahai makhluk penyuka hoax pecinta romantisasi quotes pinterest." 😬

Baca Juga : 4 Penemuan Terbaru Tentang Berpelukan

 

Contoh Kasus

Seseorang cenderung gagal dalam memprediksi perasaannya di masa depan karena ada kecenderungan manusia dalam melebih-lebihkan penilaian positif dan negatif didalam pikiraannya. Misal, Janet memiliki keinginan untuk membeli Iphone 13, ponsel impiannya. Ia berusaha menabung dan bekerja keras supaya keinginannya terkabul dengan harapan ia akan merasa senang dan bahagia nanti, tertulis "Twitter for iPhone" di setiap tweetnya, kamera sejernih efek aplikasi XiuXiu, dan yang terpenting statusnya sebagai ponsel mahal yang bisa dipamerin kemana-mana ehehee.... Segala penilaian positif berlalu-lalang dipikiran menambah motivasi untuk segera mewujudkannya. 

Beberapa bulan kemudian terbelilah iPhone 13, wahh bahagia pasti. Sayangnya, seiring waktu berlalu rasa bahagia ini surut. Kita cenderung memiliki penilaian yang buruk terkait seberapa lama dan intens kebahagiaan atau kesedihan berlangsung yang disebut Impact Bias. Sampailah Janet pada moment "Ternyata kebahagiaan itu hanya sementara ya.." πŸ˜“

Sebelas-dua belas dengan moment mendekati doi dengan keringat dan air mata, pas sudah dapat, bahagianya surut, disia-siakan. Sopo ngunuku??

Ditambah iPhone 14 tau-tau udah rilis~ 😱

Ketika iPhone 14 rilis Janet sedikit menyesal dengan keputusannya, berkontribusi terhadap surutnya rasa bahagia yang pernah ia prediksi. Moment ini disebut dengan Projection Bias, dimana seseorang memproyeksikan preferensinya saat ini ke masa depan, padahal di masa depan apa yang ia inginkan bisa saja berbeda.

Berkebalikan dengan Projection Bias, terdapat istilah yang disebut dengan Focalism, yakni kecenderungan untuk fokus pada satu kondisi sehingga meremehkan atau mengabaikan kondisi yang mungkin mempengaruhi pikiran dan perasaannya dimasa depan. Contoh, ketika seseorang dalam kondisi kenyang pergi ke supermarket, ia cenderung tidak memikirkan untuk membeli makanan, padahal bisa saja ia membutuhkan makan nanti.

Use this trick for your kids, parents! Menjaga anak tetap dalam kondisi kenyang mungkin bisa mencegahnya njajan πŸ‘ 

Eh, ternyata yang dia ambil mainan 300ribu-an, waduhhh.. wkwk

πŸ‘

 This is somehow interesting, karena ada istilah/sebutan pada setiap kejadian atau situasi yang mungkin pernah atau belum pernah kita alami. Ya kan? πŸ˜€


Referensi :  Affective Forecasting. Psychologi Today.


Post a Comment

0 Comments